Benturan Kepentingan Ekonomi dan Kepentingan Geologi

DIKATAKAN demikiankarena pada tanggal 5juni 1973 di Stockholm(Swedia) diadakan konferensilingkungan hidup pertama seduniayang diprakarsai oleh PBB.Dengan penyelenggaraan konferensitersebut, membuka era baruterhadap kepedulian lingkungan.Sebenarnya sebelum konferensitersebut di atas, pada 6 Maret1972 kelompok MIT (MassachussettsInstitute of Technology)menyerahkan hasil penelitiannyake “Club of Rome” (KelompokRoma) yang terdiri atas 100 ahlidari berbagai bidang ilmu. Hasilpenelitian ini merupakan peristiwamonumental karena denganlaporan tersebut membuka matapara negarawan, politician, danilmuan akan bencana yang sedangdihadapi.Dalam laporan itudicantumkan antara lain: Jikakecenderungan-kecenderungandalam mengeksploitasi sumberdaya alam dalam rangka pertumbuhanproduksi tetap diteruskanseperti masa-masa yang lalu, makabumi yang sesungguhnya mempunyaibatas-batas kemampuandaya dukung (carriying capacity),dalam waktu yang tidak terlalulama kehidupan umat manusiaakan mengalami bencana.Apa yang dikemukakan olehClub of Roma tersebut, oleh Allahswt telah memberikan peringatandalam firman-Nya: “Telah tampakkerusakan di laut dan di bumi(lingkungan) disebabkan karenatangan manusia, sehingga Allahmenumpahkan kepada merekasebahagian dari akibat yang merekalakukan agar mereka kembalike jalan yang benar” (Q: Ar Ruumayat 41).Timbul pertanyaan, variabelvariabelapa saja yang dominandalam “desakan” lingkungan tersebut.Variabel tersebut antara lain:Pertama, Dinamika Penduduk,dapat berarti pertumbuhanpenduduk, migrasi penduduk,perubahan selera, perubahan polahidup, perubahan standar hidup,perubahan nilai-nilai dalammasyarakat, kesemuanya ini akanmendorong pemenuhan yanglebih besar. Untuk memenuhikebutuhan dan keinginan yangsemakin meningkat tersebut,maka eksploitasi sumber dayaalam yang sering secara berlebihlebihan(over exploitation) takterhindarkan. Sumber daya alamdieksploitasi tidak didasarkanakan tingkat “kebutuhan” (need)tetapi didasarkan atas “keinginan”(want) atau keserakahan. Hal inidilandasi falsafah materialistis yangmemandang bahwa keber-hasilanhidup apabila dapat menghimpunkekayaan yang sebesar-besarnya.Manusia sering merasa dirinyabukan sebagai bagian dari ekosistem(anthropo centris), merasadirinya berada di luar ekosistem.Pandangan inilah merupakan“akar bencana” terhadap lingkungan.Mereka tidak insaf bahwapembangunan hanya akan berjalandengan baik dalam ekosistemyang terpelihara. Dengan tidakmemperhatikan hal ini makamanusia tanpa sadar menggalikuburan mereka sendiri.Pengrusakan lingkungan terjadioleh semua strata sosialmanusia. Pada kelompok masyarakatmiskin, eksploitasi karena“kemiskinannya” (poverty pullution),mereka butuh pemenuhan“kebutuhan dasarnya” (basic need).Demikian pula pada kelompokkaya yang bermodal besar. Merekamengeksploitasi SDA secaraberlebih-lebihan karena inginmemuaskan keinginannya, mendapatkankeuntungan sebesarbesarnya.Kelompok ini penyebabterjadinya “affluent pullution”yaitu polusi yang disebabkankarena “kekayaan”. Sebagai contohdi Indonesia hanya dua atautiga pengusaha dapat menguasaipengelolaan hutan jutaan hektaredalam bentuk HPH.Menurut Sawit Watch, lajupengrusakan hutan tahun 2005-2006 berkisar 2,76 juta hektare,setiap tahun Indonesia kehilanganjutaan hektare, industri-industribermunculan di mana-manasebagai sumber pencemaran,demikian pula tambang-tambangtersebar di berbagai lokasi yangsering menyisakan penderitaanmasyarakat lokal sehingga sumberdaya alam yang melimpah itudapat berubah menjadi kutukan,bukannya mensejahterakan tapimalahan menyengsarakan. Kelompokpara pemodal besar inisering kurang bertanggung jawabterhadap kelestarian lingkungan,yang perlu buat mereka adalah“keuntungan”. Kelompok inilahyang sesungguhnya sangat potensialmerusak SDA dan lingkungan.Tetapi ironisnya, yangsering disalahkan adalah rakyatkecil yang sebenarnya hanyamemetik sesuai dengan kebutuhandasar hidupnya. Tidak mungkinmereka akan merusak ratusanribu hektare hutan seperti apayang dilakukan oleh para pemodalbesar (konglomerat).Kedua, orientasi pada pertumbuhanekonomi yang tinggi. Adakebanggaan setiap negara apabilamenghasilkan pertumbuhan ekonomiyang tinggi, tapi kurangmempedulikan kerusakan lingkunganakibat pembangunantersebut. Misalnya Indonesia padamasa Orde Baru dengan lajupertumbuhan ekonomi berkisartujuh/delapan persen pertahunmenimbulkan rasa kebanggaanterhadap keberhasilan pembangunan.Tetapi di sisi lain, kehancuransumber daya alam dan kerusakanlingkungan kurang dimunculkanke permukaan sebagai akibatpembangunan ekonomi tersebut.Ketiga, eksploitasi sumber dayaalam yang berlebih-lebihan. Dipacuhal-hal yang telah dikemukakan diatas, maka terjadilah ekploitasi SDAyang secara berlebih-lebihan yangsering melampaui “daya dukung” dan“daya lenting”, yang pada akhirnyaakan bermuara pada merananya danhancurnya sumber daya alam danlingkungan, yang pada akhirnya akanmenyebabkan bencana ekologi yangselanjutnya akan menyengsarakanmakhluk hidup di planet bumi inibukan hanya manusia.Keempat, perkembangan ilmupengetahuan dan teknologi.Perkembangan ilmu pengetahuandan teknologi merupakan “pemegangsaham” dalam eksploitasisumber daya alam. Dengan perkembanganilmu pengetahuandan teknologi di satu sisi dapatmenyebabkan manusia bertindaksebagai “monster” yang menyengsarakanumat manusia. Namunsebaliknya dengan perkembanganilmu pengetahuan dan teknologimanusia dapat menjadi makhluk“yang arif” dalam mengelolaSDA. Dengan demikian kemajuanilmu pengetahuan dan teknologi,manusia dapat berupa“setan” (devils) yang dapat menyengsarakankehidupan manusiatetapi dapat pula menjadi “malaikan”(angels) yang akan membawakeselamatan. Kesemuanya sangatbergantung pada “nilai dan moral”yang disandang oleh manusiatersebut.Keempat variabel tersebutsaling berinteraksi yang menyebabkanterjadinya benturan terhadaptata lingkungan, yang selanjutnyamenyebabkan lingkungansemakin memburuk akibat bebandaya dukung lingkungan yangsudah melampaui batas (environmentaloverstress).Memperhatikan apa yangtelah dikemukakan di atas, timbulkesan seperti adanya benturanantara “kepentingan ekonomi” dan“kepentingan ekologi”, di manakepentingan ekonomi tampaknyalebih dominan dari kepentinganekologi atau lingkungan.Para pencinta lingkungan(environmentalist) sangat menekankanperlunya “kelestarianlingkungan” (ekologi). Tetapisebaliknya di pihak lain kelompokyang merasa diri sebagai parapembangun (developmentalist)berpendapat bahwa sumber dayaalam (SDA) mesti digarap dandikembangkan untuk memenuhikebutuhan hidup manusia, merekaperlu makan, pakaian, perumahan,dan lain-lain. Para developmentalistmenyatakan kalaukita tetap mempertahankan kelestarianSDA/lingkungan maka kitatidak bisa mnembangun. Sebaliknyapara environmentalist menyatakankalau cara pembangunanyang dilaksanakan hanya memburuGNP yang tinggi sebagaiindikator keberhasilan pembangunanm,maka lingkungan akanmerana dan menghadapi bencana.Alat pengukuran berdasarkanGNP tersebut oleh beberapa ahlitelah mengkritiknya. Pada tahundelapan puluhan oleh ekonombernama Todaro mengatakanbahwa GNP sebagai alat pengukurankeberhasilan pembangunansudah perlu “diturunkan daritahta kerajaannya”. Menurut dia,dengan memburu GNP yangtinggi di samping dampak positifyang diciptakan, juga menciptakandampak negatif yang cukupserius antara lain:Pertama, eksploitasi sumberdaya alam yang berlebih-lebihanyang menyebabkan kerusakansumber daya alam dan lingkungan.Kedua, distribusi pendapatanyang makin timpang,kelompok kaya bertambah kaya,kelompok miskin bertambahmiskin dan bertambah membesar.Sesudah PKSDilarang Bicara JilbabTanggal 5 Junimerupakan harilingkungan hidup.Tanggal tersebutmempunyai artiyang sangatpenting dalamkehidupan umatmanusia di planetbumi ini.O l e hHM Idris AriefGuru Besar FakultasEkonomi UNM4 Selasa, 2 Juni 2009TAJUKKetiga, pengangguran makinmembengkak. Hal ini disebabkanantara lain karena ada kecenderunganpara pengusaha melaksanakanpadat modal (capitalintensive), sehingga pemakaiantenaga kerja semakin berkurang.Hal ini tentulah akan mendorongberkembangnya pengangguran.Berikutnya, kemiskinan mutlakdi antara penduduk makinbertambah. Serta, rasa sejahteradalam kehidupan makin terganggukarena berbagai hal antaralain karena pencemaran, pemanasan,kebisingan, dll. Semua iniakibat dari pembangunan.Selanjutnya pada tahun sembilanpuluhan, kritik tersebutberlanjut oleh Samuelson (peraihhadiah Nobel dalam bidangekonomi) yang mengatakan:“Jangan bicara kepada saya tentangbarang-barang dan dollarmu,atau GNP-mu yang tinggi.Bagi saya sesungguhnya GNP-muitu sama artinya dengan GrossNational Pullution (Polusi NasionalBruto)”. Demikian pulapenelitian Grossman dan Kruegermenyatakan: “setiap kenaikanGNP selalu pula diikuti dengankenaikan pencemaran dan kerusakanSDA”.Sebagai contoh berdasarkanpenelitian “World Research Institute”ditemukan bahwa pertumbuhanekonomi Indonesia tahun1995 berkisar 7 atau 8 persenyang cukup mencengangkanbahkan dianggap “mukjisat”(mincle) tetapi apabila dikurangidengan kerusakan lingkungansebagai akibat dari proses pembangunantersebut didapatkanangka pertumbuhan netto hanyaberkisar 3 atau 4 persen. Dengandemikian angka pertumbuhanekonomi yang tinggi tanpa memperhitungkanangka kerusakansumber daya alam dan lingkunganakibat pembangunan tersebut dapatdikatakan “pertumbuhan semu”.Dari apa yang diuraikan di atastampak bahwa antara “kepentinganekonomi” dan “kepentinganekologi” (lingkungan) perlu “dipadukan”.Apabila ini dapat terealisasimaka “pembangunan yangberkelanjutan” (sustainable development)dapat tercapai. Hal inisesuai amanah Undang-UndangDasar 1945 di mana dinyatakandalam pasal 33 ayat 4 bahwa “perekonomiannasional diselengga-rakansecara berkelanjutan dan berwawasanlingkungan”. Sayang ada golongantertentu termasuk pemodal besar(konglomerat) dengan penuh arogansimenyatakan dirinya sebagaimanusia-manusia pembangun karenakemampuan berinvestasi secarabesar-besaran.Kepada pemerintah, kepedulianlingkungan tampaknyamasih berbentuk “keinginan”(political will), masih sangatminim “tindak lanjut” untukmerealisasi keinginan tersebut(political action). Perlu reorientasitujuan pembangunan sepertidiamanahkan UUD 1945 bukanhanya mengejar kenaikan GNPyang tinggi, tetapi harus menjagakesimbangan pembangunan antarsektor sehingga dapat terciptamasyarakat yang sejahtera.

 

Sumber :

1243907392FAJAR.UTM_2_4.pdf – adobe Raeder

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s