ANALISIS PERPUTARAN KAS SEBAGAI PENGAMBILAN KEPUTUSAN INVESTASI PADA PT. JASA MARGA TBK

      Tugas 1 Etika Profesi Akuntansi

 

 

 

ANALISIS AKUNTANSI DIFERENSIAL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN

 

 

 

Nama Kelompok         :

 

Ridwan

 

Danny SP

Chandra Alam

 

 

 

Kelas :  4EB06

 

Dosen :  Edi Pranoto

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Dalam manajemen konvensional, ukuran kinerja perusahaan yang biasa digunakan adalah ukuran keuangan. Hal ini karena ukuran keuangan merupakan faktor yang pengukurannya paling mudah dilakukan. Ketika mengukur kinerja keuangan perusahaan perlu ditentuan tolak ukur pengukuran kinerja. Tolak ukur dianggap penting untuk menentukan pencapaian kinerja perusahaan, sehingga informasi yang diberikan dapat mencerminkan kinerja perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Pengukuran kinerja perusahaan secara umum melingkupi likuiditas, solvabilitas, aktivitas, profitabilitas. Salah satu rasio yang cukup penting dalam pengukuran kinerja perusahaan adalah profitabilitas, yang diukur melalui perputaran kas.

 

Kas adalah salah satu modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya. Kas diperlukan baik untuk membiayai operasi perusahaan sehari-hari maupun untuk mengadakan investasi baru dalam aktiva tetap, sehingga kas harus dikelola dengan tepat, yang salah satunya dengan memperhatikan tingkat perputaran kasnya. Tingkat perputaran kas yang tinggi menunjukkan efisiensi dalam penggunaan kas, sehingga perusahaan bisa memaksimalkan laba. Dan sebaliknya, tingkat perputaran kas yang rendah menyebabkan perusahaan kurang bisa memaksimalkan laba.

 

PROFIL PERUSAHAAN

 

Untuk mendukung gerak pertumbuhan ekonomi, Indonesia membutuhkan jaringan jalan yang handal. Melalui Peraturan Pemerintah No. 04 Tahun 1978, pada tanggal 01 Maret 1978 Pemerintah mendirikan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Tugas utama Jasa Marga adalah merencanakan, membangun, mengoperasikan dan memelihara jalan tol serta sarana kelengkapannya agar jalan tol dapat berfungsi sebagai jalan bebas hambatan yang memberikan manfaat lebih tinggi daripada jalan umum bukan tol.

 

Pada awal berdirinya, Perseroan berperan tidak hanya sebagai operator tetapi memikul tanggung jawab sebagai otoritas jalan tol di Indonesia. Hingga tahun 1987 Jasa Marga adalah satu-satunya penyelenggara jalan tol di Indonesia yang pengembangannya dibiayai Pemerintah dengan dana berasal dari pinjaman luar negeri serta penerbitan obligasi Jasa Marga dan sebagai jalan tol pertama di Indonesia yang dioperasikan oleh Perseroan, Jalan Tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) merupakan tonggak sejarah bagi perkembangan industri jalan tol di Tanah Air yang mulai dioperasikan sejak tahun 1978.

 

Pada akhir dasawarsa tahun 80-an Pemerintah Indonesia mulai mengikutsertakan pihak swasta untuk berpartisipasi dalam pembangunan jalan tol melalui mekanisme Build, Operate and Transfer (BOT). Pada dasawarsa tahun 1990-an Perseroan lebih berperan sebagai lembaga otoritas yang memfasilitasi investor-investor swasta yang sebagian besar ternyata gagal mewujudkan proyeknya. Beberapa jalan tol yang diambil alih Perseroan antara lain adalah JORR dan Cipularang.

 

Dengan terbitnya Undang Undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan yang menggantikan Undang Undang No. 13 tahun 1980 serta terbitnya Peraturan Pemerintah No. 15 yang mengatur lebih spesifik tentang jalan tol terjadi perubahan mekanisme bisnis jalan tol diantaranya adalah dibentuknya Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) sebagai regulator industri jalan tol di Indonesia, serta penetapan tarif tol oleh Menteri Pekerjaan Umum dengan penyesuaian setiap dua tahun. Dengan demikian peran otorisator dikembalikan dari Perseroan kepada Pemerintah. Sebagai konsekuensinya, Perseroan menjalankan fungsi sepenuhnya sebagai sebuah perusahaan pengembang dan operator jalan tol yang akan mendapatkan ijin penyelenggaraan tol dari Pemerintah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SEJARAH PERUSAHAAN

 

Periode I

 

1978 -1987

 

Operator Tunggal Jalan Tol

 

1978 – Jasa Marga didirikan sebagai operator tunggal jalan tol, dengan bidang usaha pengelolaan, pemeliharaan, dan pengadaan jaringan jalan tol

 

1978 – Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) dioperasikan

 

1979 – Jembatan Tol Rajamandala dioperasikan, dan dikembalikan kepada pemerintah pada tahun 2003

 

1981 – Jembatan Tol Tallo Lama (Ujung Pandang) dioperasikan, dan diserahkan pengelolaanya kepada PT Bosowa Marga Nusantara tahun 1995

 

1981 – Jembatan Tol Wonokromo (Surabaya) dioperasikan, dan dikembalikan ke Pemerintah tahun 1986

 

1982 – Jembatan Tol Kapuas dioperasikan, dan dikembalikan kepada pemerintah tahun 1991

 

1982 – Jembatan Tol Mojokerto dioperasikan, namun dikembalikan kepada pemerintah tahun 2003

 

1984 – Jalan Tol Jakarta-Tangerang dioperasikan

 

1983 –Jalan Tol Semarang Seksi A (Srondol – Jatingaleh) dioperasikan

 

1985 – Jalan tol Prof.Dr. Ir. Sedyatmo (Bandara) dioperasikan

 

1986 – Jalan Tol Belawan Medan Tanjung Morawa dioperasikan

 

1986 – Jalan Tol Surabaya-Gempol-Mojokerto dioperasikan 

 

Periode II

 

1987 -2004

 

Operator dan Otorisator Jalan Tol

 

Pemerintah memberi kesempatan kepada pihak swasta untuk berpartisipasi dalam mengusahakan jalan tol melalui sistem build, operate dan trnasfer (BOT) dengan Jasa Marga

 

1987  – Jalan Tol dalam kota ruas Cawang-Semanggi dioperasikan

 

1987 – Jalan Tol Semarang Seksi B (Jatingaleh-krapyak) dioperasikan

 

1988 – Jalan Tol Jakarta-Cikampek dioperasikan

 

1989 – Jalan Tol Dalam kota ruas Semanggi-Grogol dioperasikan

 

1991 – Jalan Tol Padalarang-Cileunyi dioperasikan

 

1995 – Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta ruas Pondok Pinang-Lenteng Agung dioperasikan (oleh PT Marga Nurindo Bhakti)

 

1996 – Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta ruas Pondok Pinang-Lenteng Agung dioperasikan (oleh PT Marga Nurindo Bhakti)

 

1998 – Jalan Tol Palimanan Kanci dioperasikan

 

1998 – Jalan Tol Semarang Seksi C (Jangli-Kaligawe) dioperasikan

 

1999 – Jalan Tol Serpong-Ulujami (Serpong-Bintaro Viaduct) dioperasikan

 

2003 – Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta dioperasikan oleh PT Jalantol  Lingkarluar Jakarta (anak perusahaan Jasa Marga

 

2003 – Jalan Tol Cipularang Tahap I (Padalarang bypass dan Dawuan-Sadang)dioperasikan

 

Periode III

 

2004 – Sekarang

 

Pengembang dan Operator Jalan Tol

 

Fungsi  Otorisator dikembalikan kepada Pemerintah  (Departemen PU), Jasa Marga menjadi operator murni

 

2005 – Jalan Tol Cipularang Tahap II  (Sadang-Padalarang Utara) dioperasikan, Jakarta-Bandung tersambung melalui tol

 

2006 – Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (seksi Taman Mini-Jati Asih) dioperasikan

 

2006 – Jalan Tol Surabaya-Gempol, Ruas Porong-Gempol ditutup akibat terendam lumpur

 

2007 – Jalan Tol Lingkar luar Jakarta  Rorotan-Ulujami sepanjang 45 km dioperasikan

 

2007 – PT Jasa Marga (Persero) Tbk  menjadi perusahaan terbuka melalui IPO (initial Public Offering) dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia

 

2008 – Jalan Tol Bogor Ring Road dioperasikan oleh PT Marga Sarana Jabar, anak perusahaan  Jasa Marga

 

2009 – Jembatan Tol Suramadu dioperasikan oleh Jasa Marga cabang Surabaya-Gempol

 

2011 – Jalan Tol Surabaya-Mojokerto Seksi IA, dioperasikan oleh PT Marga Nujyasumo Agung, anak perusahaan Jasa Marga

 

2011 – Jalan Tol Semarang-Solo Tahap I, Ruas Semarang-Ungaran, dioperasikan oleh PT Trans Marga Jateng, anak perusahaan Jasa Marga

 

 

 

 

 

TEORI

 

PENGERTIAN KAS

 

Menurut Martono dan Agus Harjito (2007) “Kas merupakan salah satu bagian dari aktiva yang memiliki sifat paling lancar dan paling mudah berpindah tangan dalam suatu transaksi”. Kas merupakan aktiva yang tidak dapat menghasilkan laba, dalam artian tidak dapat menghasilkan laba secara langsung dalam operasi perusahaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan usaha manajemen kas yang efektif dan efisien sehingga pemanfaatan kas tersebut maksimal.

 

Dari penjelasan diatas maka kas merupakan seluruh uang tunai yang ada ditangan (cash on hand) dan dana yang disimpan di bank dalam berbagai bentuk, seperti deposito dan rekening koran.

 

Aliran Kas Masuk Dan Kas Keluar

 

Kas yang dibutuhkan perusahaan baik digunakan untuk operasi perusahaan sehari-hari (dalam bentuk modal kerja) maupun untuk pembelian aktiva tetap memiliki sifat kontinyu dan tidak kontinyu. Kebutuhan kas yang terus-menerus (kontinyu) seperti untuk pembelian bahan baku dan bahan pembantu, membayar gaji, membelisupplies kantor dan sebagainya. Sedangkan kebutuhan kas yang tidak kontinyu seperti kebutuhan kas untuk membeli aktiva tetap, pembayaran angsuran hutang, deviden, pajak dan sebagainya. Kebutuhan kas untuk pembayaran-pembayaran tersebut diatas merupakan aliran kas keluar (cash outflow) atau termasuk dalam pembelanjaan aktif.

 

Adapun aliran kas masuk (cash inflow) atau termasuk kedalam pembelanjaan pasif merupakan sumber-sumber dimana kas diperoleh. Aliran kas masuk kontinyu sebagian besar berasal dari penjualan produk utama perusahaan yang dijual secara tunai dan penerimaan piutang yang telah dijadwalkan sesuai dengan penjualan kredit yang telah dilakukan. Penerimaan kas yang tidak rutin adalah penerimaan dari uang sewa gedung, penjualan aktiva yang tidak terpakai, penerimaan modal saham dari para investor, penerimaan hutang atau kredit dari bank dan penerimaan bunga.

 

Dengan adanya aliran kas masuk dan keluar yang rutin dan yang tidak rutin, maka sangat penting diadakan pengelolaan kas. Perimbangan pemasukan dan pengeluaran kas harus disesuaikan dengan kepentingan perusahaan. Perusahaan harus menentukan berapa besarnya kas minimal yang harus ada di perusahaan, dan berapa kas ideal yang disimpan oleh perusahaan sehingga operasi perusahaan tidak terganggu dan kas yang ada tidak menganggur terlalu lama.

 

 

 

Perputaran Kas

 

Untuk mengelola kas agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan, maka kas harus diputar dengan baik. Tingkat perputaran kas akan berdampak langsung terhadap keuntungan. Hal ini termuat dalam pernyataan Bambang Riyanto (2001) bahwa “tingkat perputaran kas yang tinggi menunjukkan efisiensi dalam penggunaan kas”. Tingkat perputaran kas (Cash on Bank Turnover Ratio = CBTR) adalah perbandingan antara penjualan bersih dengan rata-rata saldo kas dan bank.

 

 

 

Sehingga perusahaan harus mengatur dengan baik perputaran kasnya agar bisa dicapai nilai rasio CBTR yang tinggi. Nilai CBTR yang tinggi mengindikasikan adanya efisiensi penggunaan kas dalam operasional perusahaan.

 

 

 

Metode Keterikatan Dana

 

Periode terikatnya modal kerja yaitu jangka waktu yang diperlukan mulai kas ditanamkan ke dalam elemen-elemen modal kerja sampai menjadi kas lagi. Semakin lama periode terikatnya modal kerja akan semakin memperbesar jumlah kebutuhan modal kerja, demikian sebaliknya. Pada perusahaan dagang periode terikatnya dana dimulai dari kas dibelikan barang dagang kemudian dijual (misalkan dijual secara kredit) akan menjadi piutang dan setelah piutang terbayar, maka akan menjadi kas lagi.

 

 

 

 

 

 

 

KASUS

 

Dua orang investor bernama tuan A dan nyonya B ingin mengivestasikan dananya dengan melihat kinerja perusahaan dari perputaran kas nya pada PT. Jasa Marga TBK. Tuan A ingin menginvestasikan dananya sebesar Rp.100.000.000 dilihat dari rata-rata CBTR. Sedangkan nyonya B menginvestasikan dananya sebesar Rp. 50.000.000 dilihat dari rata-rata CBTR. Berikut adalah perhitungan dengan melihat perputaran kas sebagai pengambilan keputusan investasi:

 

Tabel 1

 

Jumlah CBTR PT. Jasa Marga Tahun 2010-2012

 

(dalam ribuan rupiah)

 

Tahun

 

Periode

 

Pendapatan Usaha

 

Saldo Kas dan Bank Awal

 

Saldo Kas dan Bank Akhir

 

Rata-Rata Saldo Kas dan Bank

 

CBTR (kali)

 

 

 

Triwulan I

 

1.011.281.027

 

3.254.240.829

 

3.303.036.772

 

3.278.638.801

 

0,30

 

2010

 

Triwulan II

 

2.103.224.496

 

3.254.240.829

 

3.682.584.561

 

3.468.412.695

 

0,60

 

 

 

Triwulan III

 

3.210.285.386

 

3.254.240.829

 

3.378.403.513

 

3.316.322.171

 

0,96

 

 

 

Triwulan IV

 

4.378.584.303

 

3.314.002.735

 

4.011.590.465

 

3.662.796.600

 

1,19

 

 

 

Triwulan I

 

1.154.710.811

 

4.011.590.465

 

4.099.271.506

 

4.055.430.986

 

0,28

 

2011

 

Triwulan II

 

2.359.754.763

 

4.011.590.465

 

4.190.089.570

 

4.100.840.018

 

0,57

 

 

 

Triwulan III

 

3.595.216.973

 

4.011.590.465

 

3.439.078.394

 

3.725.334.430

 

0,96

 

 

 

Triwulan IV

 

4.960.472.520

 

4.011.590.465

 

3.764.008.691

 

3.887.799.578

 

1,27

 

 

 

Triwulan I

 

1.469.043.092

 

3.764.008.591

 

3.968.011.479

 

3.866.010.035

 

0,37

 

2012

 

Triwulan II

 

3.273.734.144

 

3.764.008.591

 

4.139.833.798

 

3.951.921.195

 

0,82

 

 

 

Triwulan III

 

5.593.382.052

 

3.764.008.591

 

4.068.209.814

 

3.916.109.203

 

1,42

 

 

 

Triwulan IV

 

9.070.219.074

 

3.764.008.591

 

4.302.382.487

 

4.033.195.539

 

2,24

 

Rata-rata CBTR

 

0,92

 

Dari tabel diatas dapat ditentukan keuntungan investasi yang ditanamkan oleh investor dilidhat dari rata-rata perputaran kas (CBTR). Dengan cara mengkalikan investasi dengan CBTR perusahaan. Berikut perhitungan keuntungan investasi Tuan A

 

Diketahui: penanaman investasi Tuan A = Rp.100.000.000

 

Rata-rata CBTR perusahaan periode 2010-2012 = 0,92

 

Ditanya: berapa keuntungan investasi yang didapat Tuan A?

 

Jawab:

 

Laba investasi = (jumlah investasi x Rata-rata CBTR) + jumlah investasi

 

= (100.000.000 x 0,92) + 100.000.000

 

= Rp. 192.000.000

 

 

 

Berikut perhitungan keuntungan investasi Nyonya B

 

Diketahui: penanaman investasi Nyonya B = Rp.50.000.000

 

Rata-rata CBTR perusahaan periode 2010-2012 = 0,92

 

Ditanya: berapa keuntungan investasi yang didapat Nyonya B?

 

Jawab:

 

Laba investasi = (jumlah investasi x Rata-rata CBTR) + jumlah investasi

 

= (50.000.000 x 0,92) + 50.000.000

 

= Rp. 96.000.000

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s